I b.e.l.i.e.v.e

When you’re searching for the light
And you see no hope in sight
Be sure and have no doubt
He’s always close to you

He’s the one who knows you best
He knows what’s in your heart
You’ll find your peace at last
If you just have faith in Him

You’re always in my heart and mind
Your name is mentioned every day
I’ll follow you no matter what
My biggest wish is to see you one day

Chorus:
I believe
I believe
Do you believe, oh do you believe?

Coz I believe
In a man who used to be
So full of love and harmony
He fought for peace and liberty
And never would he hurt anything
He was a mercy for mankind
A teacher till the end of time
No creature could be compared to him
So full of light and blessings

You’re always in my heart and mind
Your name is mentioned every day
I’ll follow you no matter what
If God wills we’ll meet one day

Chorus

If you lose your way
Believe in a better day
Trials will come
But surely they will fade away
If you just believe
What is plain to see
Just open your heart
And let His love flow through

I believe I believe, I believe I believe
And now I feel my heart is at peace

Chorus

I believe I believe, I believe I believe

———

Lyrics: Maher Zain, Bara Kherigi & Irfan Makki
Melody: Irfan Makki & Maher Zain
Arrangement: Maher Zain
Video Directed by: Lena Khan

Allah pasti akan berikan hadiahNya. Jika kita bersabar, jika kita sentiasa solat dan memohon dariNya. Dan Allah pasti akan berikan sentuhan-sentuhanNya, kekuatan-kekuatanNya, yang datang dari arah yang tak disangkakan. Kerana dunia realiti inilah, dunia ujian. Dunia pembuktian. Bukan dunia ideal kita. PERCAYALAH!

Semoga Allah reda…

Bismillah Ar-Rahmaan Ar-Raheem.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,

Lama sekali rasanya kita tidak bertegur sapa, kan?

Semoga kita terus saling bertemu dalam doa-doa rabithah kita saban pagi dan petang.

Sejujurnya hati ini sangat rindu pada kalian, namun menantikan batas waktu untuk bersua dan menjalin ukhwah ketika medan bergelut ini begitu menggamit sekali. Afwan ya sahibah fillah, semoga suatu hari kita boleh bertemu mata dan memeluk hangat kasih sayang terbina di atas jalan dakwah ini.

Hari ini ana mahu berkongsi sepotong ayat dari al Quran, buat tatapan kita bersama-sama.

“Barangsiapa menghendaki keuntungan akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebahagian darinya(keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” (As Syura: 20)

In Team dan Raihan kata,

Ujian adalah tarbiyyah dari Allah

apakah kita kan sabar?

ataupun sebaliknya…

Kesenangan yang datang selepas kesusahan

Semuanya adalah nikmat dari Tuhan…

Allahuakbar. Susah bukan untuk benar-benar menghidupkan hakikat ini didalam hati? Terutama dalam waktu-waktu sukar dan jerih. Kadang-kadang kita tidak mampu untuk menolak fitrah bahawa kita tetap juga merasa sukar meskipun kita telah berusaha mengatasinya. Bukanlah kita manusia kalau kehidupan kita sempurna saja. Perlu ada jatuh bangunnya, perlu ada tawa dan tangisnya, perlu ada exam dan resultnya. Itulah kehidupan dunia. Semalam menangis, hari ini mungkin ketawa.

Kadang-kadang insensitivity dan inability to response correctly kepada nikmat-nikmat dari Allah menyebabkan kita merasakan bahawa kesusahan yang kita dapat itu lebih besar daripada kesenangan yang sedia ada. Lantas kita mula berkira-kira air-air mata yang kita titiskan seolah-olah Allah tidak mendengar doa kita. Tapi jangan sampai tidak memberi hak kepada hati. Apa guna Allah beri hati kalau kita refuse untuk merasai perasaan-perasaan seorang manusia. Kitalah yang perlu meletakkan sempadan-sempadan kepada perasaan-perasaan tersebut seperti mana Allah sempadankan nikmat syurga Adam dan Hawa dengan meletakkan syarat agar tidak mendekati pohon khuldi.

Seperti mana Adam dan Hawa diizinkan untuk bergembira di taman-taman syurga, makan apa sahaja yang berkenan di hati, berbuat apa sahaja yang diingini asalkan saja mereka tidak mendekati sang Khuldi. Begitulah juga kita. Kalau mahu sedih, sedihlah. Kalau mahu gembira, gembiralah. Kalau mahu berbuat sesuatu, lakukanlah! Asalkan jangan dekati sesuatu yang Allah larang.

Tapi hakikat tidak selalunya semudah itu. Tidak semua sempadan di hati ini jelas kelihatan. Ada waktunya kita manusia, hanya tersedar batasan kita, setelah terlanjur melangkaui sempadan perasaan tersebut. Selepas marah, baru tersedar kesilapan diri. Selepas bersedih dan bersangka buruk pada sesuatu ujian Allah, baru ternampak hikmahnya. Selepas kehilangan nikmat-nikmatNya, barulah terasa kasih sayangNya… bukankah selalunya begitu?

Mungkin ana perlu lebih banyak bermuhasabah. Ighfirly ya Allah, ana faqir ilayka!

Kerana mahu meninggalkan dunia ini kelak dengan sebuah ketenangan dan kepuasan. Bahawa kehidupan dunia ini telah kita laksanakan dengan penuh kemanusiaan. Semoga Allah redha.

Saling mendoakan moga kesejahteraan milik bersama. Salam sayang, semoga Allah memberikan yang terbaik dalam setiap langkah kita demi mencapai reda-Nya semata.

Yakinlah, dan pejamkan mata!

iman adalah mata yang terbuka,
mendahului datangnya cahaya
tapi jika terlalu silau, pejamkan saja
lalu rasakan hangatnya keajaiban

Saya tertakjub membaca kisah ini; bahwa Sang Nabi hari itu berdoa.

Di padang Badr yang tandus dan kering, semak durinya yang memerah dan langitnya yang cerah, sesaat kesunyian mendesing. Dua pasukan telah berhadapan. Tak imbang memang. Yang pelik, sebagian mereka terikat oleh darah, namun terpisah oleh ‘aqidah. Dan mereka tahu inilah hari furqan; hari terpisahnya kebenaran dan kebathilan. Ini hari penentuan akankah keberwujudan mereka berlanjut.

Doa itulah yang mencenungkan saya. “Ya Allah”, lirihnya dengan mata kaca, “Jika Kau biarkan pasukan ini binasa, Kau takkan disembah lagi di bumi! Ya Allah, kecuali jika Kau memang menghendaki untuk tak lagi disembah di bumi!” Gemetar bahu itu oleh isaknya, dan selendang di pundaknya pun luruh seiring gigil yang menyesakkan.

Andai boleh lancang, saya menyebutnya doa yang mengancam. Dan Abu Bakr, lelaki dengan iman tanpa retak itu punya kalimat yang jauh lebih santun untuk menggambarkan perasaan saya. “Sudahlah Ya Rasulallah”, bisiknya sambil mengalungkan kembali selendang Sang Nabi, “Demi Allah, Dia takkan pernah mengingkari janjiNya padamu!”

Doa itu telah menerbitkan sejuta tanya di hati saya. Ringkasnya; mengapa begitu bunyinya? Tetapi kemudian, saya membaca lagi dengan sama takjubnya pinta Ibrahim, kekasih Allah itu. “Tunjukkan padaku duhai Rabbi, bagaimana Kau hidupkan yang mati!”, begitu katanya. Ah ya.. Saya menangkap getar yang sama. Saya menangkap nada yang serupa. Itu iman. Itu iman yang gelisah.

Entah mengapa, para peyakin sejati justru selalu menyisakan ruang di hatinya untuk bertanya, atau menagih. Mungkin saja itu bagian dari sisi manusiawi mereka. Atau mungkin justru, itu untuk membedakan iman mereka yang suci dari hawa nafsu yang dicarikan pembenaran. Untuk membedakan keyakinan mereka yang menghunjam dari kepercayaan yang bulat namun tanpa pijakan.

Kita tahu, di Badr hari itu, Abu Jahl juga berdoa. Dengan kuda perkasanya, dengan mata menantangnya, dengan suara lantangnya, dan telunjuk yang mengacung ke langit dia berseru, “Ya Allah, jika yang dibawa Muhammad memang benar dari sisiMu, hujani saja kami dari langit dengan batu!” Berbeda dari Sang Nabi, kalimat doanya begitu bulat, utuh, dan pejal. Tak menyisakan sedikitpun ruang untuk bertanya. Dan dia lebih rela binasa daripada mengakui bahwa kebenaran ada di pihak lawan.

Itukah keyakinan yang sempurna? Bukan. Itu justru kenaïfan. Naif sekali.

Mari bedakan kedua hal ini. Yakin dan naïf. Bahwa dua manusia yang dijamin sebagai teladan terbaik oleh Al Quran memiliki keyakinan yang menghunjam dalam hati, dan keyakinan itu justru sangat manusiawi. Sementara kenaifan telah diajarkan Iblis; untuk menilai sesuatu dari asal penciptaan lalu penilaian itu menghalangi ketaatan pada PenciptaNya. Atau seperti Abu Jahl; rela binasa daripada mengakui kebenaran tak di pihaknya. Atau seperti Khawarij yang diperangi ‘Ali; selalu bicara dengan ayat-ayat suci, tapi lisan dan tangan menyakiti dan menganiaya muslim lain tanpa henti. Khawarij yang selalu berteriak, “Hukum itu hanya milik Allah!”, sekedar untuk menghalangi kaum muslimin berdamai lagi dan mengupayakan kemashlahatan yang lebih besar. Mencita-citakan tegaknya Din, memisahkan diri di Harura dari kumpulan besar muslimin, dan merasa bahwa segala masalah akan selesai dengan kalimat-kalimat. Itu naïf.

Dan beginilah kehidupan para peyakin sejati; tak hanya satu saat dalam kehidupannya, Ibrahim sebagai ayah dan suami, Rasul dan Nabi, harus mengalami pertarungan batin yang sengit. Saat ia diminta meninggalkan isteri dan anaknya berulang kali dia ditanya Hajar mengapa. Dan dia hanya terdiam, menghela nafas panjang, sembari memejamkan mata. Juga ketika dia harus menyembelih Isma’il. Siapa yang bisa meredam kemanusiaannya, kebapakannya, juga rasa sayang dan cintanya pada sesibir tulang yang dinanti dengan berpuluh tahun menghitung hari.

Dan dia memejamkan mata. Lagi-lagi memejamkan mata.

Yang dialami para peyakin sejati agaknya adalah sebuah keterhijaban akan masa depan. Mereka tak tahu apa sesudah itu. Yang mereka tahu saat ini bahwa ada perintah Ilahi untuk begini. Dan iman mereka selalu mengiang-ngiangkan satu kaidah suci, “Jika ini perintah Ilahi, Dia takkan pernah menyia-nyiakan iman dan amal kami.” Lalu mereka bertindak. Mereka padukan tekad untuk taat dengan rasa hati yang kadang masih berat. Mereka satukan keberanian melangkah dengan gelora jiwa yang bertanya-tanya.

Perpaduan itu membuat mereka memejamkan mata. Ya, memejamkan mata.

Begitulah para peyakin sejati. Bagi mereka, hikmah hakiki tak selalu muncul di awal pagi. Mereka harus bersikap di tengah keterhijaban akan masa depan. Cahaya itu belum datang, atau justru terlalu menyilaukan. Tapi mereka harus mengerjakan perintahNya. Seperti Nuh harus membuat kapal, seperti Ibrahim harus menyembelih Isma’il, seperti Musa harus menghadapi Fir’aun dengan lisan gagap dan dosa membunuh, seperti Muhammad dan para sahabatnya harus mengayunkan pedang-pedang mereka pada kerabat yang terikat darah namun terpisah oleh ‘aqidah.

Para pengemban da’wah, jika ada perintahNya yang berat bagi kita, mari pejamkan mata untuk menyempurnakan keterhijaban kita. Lalu kerjakan. Mengerja sambil memejam mata adalah tanda bahwa kita menyerah pasrah pada tanganNya yang telah menulis takdir kita. Tangan yang menuliskan perintah sekaligus mengatur segalanya jadi indah. Tangan yang menuliskan musibah dan kesulitan sebagai sisipan bagi nikmat dan kemudahan. Tangan yang mencipta kita, dan padaNya jua kita akan pulang…

salim a. fillah

Hyperlink to Salim A. Fillah Berbagi Makna

Teguhkan hati ini

Satu Cinta
Album : Satu Cinta
Munsyid : StarFive

Ku memohon dalam sujudku pada-Mu
Ampunkanlah s’gala dosa dalam diri
Ku percaya Engkau bisa meneguhkan
Pendirianku……. Keimananku…….

Ku memohon dalam sujudku pada-Mu
Ampunkanlah s’gala dosa dalam diri
Ku percaya Engkau bisa meneguhkan
Pendirianku……. Keimananku…….

Engkau satu cinta
Yang s’lamanya aku cari
Tiada waktu ku tinggalkan
Demi cintaku kepada-Mu
Walau seribu rintangan
Kan menghadang salam diri
Ku teguhkan hati ini
Hanya pada-Mu
Ku pasrahkan…….

Oh Tuhan …. s’lamatkanlah hamba ini
Dari segala fatamorgana dunia
Oh Tuhan …. jauhkanlah hamba ini
Dari hidup yang sia-sia

Last-10 Nights

Maisarah, Ultimate Last-10 Nights Dua

Step 1: Go somewhere really beautiful, where no one can disturb you
Step 2: Imagine Allah says to you, “Ask whatever you wish and I shall grant it to you.” Think of everything good you would ask for from this life and the next.
Step 3: After thinking of everything you can, sit down and write it out.
Step 4: Pick 5 things, your favorites, and consistently ask Allah for these 5 every night in the last ten. Your dua will be guaranteed to have landed on Laylatul-Qadr! How cool is that?

With best wishes to see you succeed at the highest level!
– Muhammad Alshareef http://www.PostRamadan.com

When days passed

rose

إذا مر يوم ولم أتذكر
به أن أقول صباحك بسكر
فلا تذهلى من سكوتى وصمتى
ولا تحسبى أن شيئا تغير
فحين أنا لا أقول أحب
فمعناه أنى أحبك أكثر

Iza marra yaumun walam atazakkar
Bihii an aquula sobahuki bisukar
Fala tazhali min sukuuti wa somti
Wala tahsabii anna syai’an taghayyar
Fahiina ana la aquulu uhibbu
Fama’nahu annii uhibbuki akthar


I’ll be away for some time, insyaAllah after everything is settled for me here, I’ll spare time for you; dear sahabah. Do make du’as for me  🙂

Indeed, Allah knows best for you and me, may the blessing always be with us.

Rahsia itu hanya Kau yang tahu, hanya pada-Mu kubertanya lewat setiap sujudku ini… ighfirly ya Allah, ana faqir ilayka!


Inni akhafullah wa ana uhibbukum fillah, insyaAllah.

Aku ingin mencintai-Mu

Tuhan betapa aku malu atas semua yang Kau beri

padahal diriku terlalu sering membuatMU kecewa

entah mungkin karna ku terlena

sementara Engkau beri aku kesempatan berulang kali

agar aku kembali

dalam fitrahku sebagai manusia untuk menghambakanMU

betapa tak ada apa-apanya aku dihadapanMU

aku ingin mencintaiMU

setulusnya,sebenar-benar aku cinta

dalam do’a dalam ucapan dalam setiap langkahku

aku ingin mendekatiMU selamanya

sehina apapun diriku

ku berharap untuk bertemu denganMU ya Rabbi

nasyid by edCoustic – Aku ingin mencintai-MU

Unta merah

wanita

Belajar hidup sendiri
Belajar hidup sederhana
Belajar menjaga masa
Belajar berkongsi
Belajar menjadi kuat
Belajar menghargai

(and the list goes on…)

Segalanya adalah tarbiyyah


“…barangkali kamu tidak suka sesuatu, tetapi ia baik bagi kamu…Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui…” [2:216]

Sabarlah dengan sabar yang indah, Allah ma’ana.

Al-Falah

Doa agar dikurniakan kefahaman yang baik dan ingatan yang sempurna sewaktu menelaah matapelajaran:
(DIBACA SEBELUM MENGULANGKAJI PELAJARAN SAMADA DARI BUKU ATAU NOTA)


(Allahummar zuqna, Ya Rabbi fahman nabiyyiin, wa hifzaal mursaliin,
wa ‘ilhaamal malaikatiil muqarrabbin, fii ‘aafiyaati, ya Arhamar raahimiin
)

Maksudnya: “Wahai Tuhanku, kurniakanlah kami fahaman nabi-nabi dan hafalan para rasul serta mendapat ilham dari para malaikat yang hampir denganMu, juga kurniakanlah kami kesihatan Wahai Tuhan Yang Amat Pengasih”

Kasih sayang & Ukhwah

Aku cinta padamu, I love u, uhibbukki, wo ai ni, aishiteru’ adalah antara ungkapan yang popular pada bangsa masing-masing dalam meluahkan isi hati. Setiap insan yang waras dan berkesempatan, sudah pasti pernah mengekspresikannya.

Ia adalah susunan kalimah yang boleh digunakan daripada pelbagai sudut perspektif dan kepada pelbagai bentuk diri manusia. Ia kalimah agung, menurut sesetengah golongan, khususnya pemuzik.

Itulah hebatnya lafaz cinta. Lafaz yang mampu membuai diri manusia. Rela berkorban. Sanggup merenangi lautan dalam. Sanggup bersusah payah untuk mendapatkan sayang seseorang.

Akan tetapi, hakikat sebenar sebuah percintaan/kasih sayang ialah apabila ia diletakkan pada tempat yang terbaik dan mulia. Situasi yang menghubungkan antara pihak di langit dengan pihak di bumi. Antara dekat dan jauh. Berpaksikan kalimah suci tahlil, tiada Tuhan selain Allah.

Sesungguhnya cinta adalah emosi dan perasaan yang paling halus bagi manusia. Jika ia diarahkan kepada cinta kerana Allah, maka ia merupakan paksi terbaik dalam hubungan kemanusiaan. Lantas terungkaplah “kalimah uhibbuka fillah”, “ana akhukum fillah”.

Namun, itulah manusia, ramai yang menggunakannya di tempat yang salah. Atau keterlaluan pada keadaan yang tidak sewajarnya begitu. Manusia itu mungkin kita, mungkin sesiapa sahaja. Tidak bersedia untuk cinta kerana Pencipta. Berkasih sayang kerana yang Esa. Boleh jadi kerana ia tidak memuaskan nafsu yang terpendam di dada.

Sekiranya berjaya dilakukan maka ia akan menghasilkan natijah yang tersangat indah untuk kehidupan umat ini. Manusia berkasih sayang kerana Allah. Bersahabat atas dasar perjuangan yang hakiki. Susah payah diharungi bersama. Pemimpin dan ahli bertungkus-lumus untuk keredhaan Allah melalui hubungan kasih sayang sesama mereka. Itulah indahnya Islam, bila ianya dihayati dan dilakukan.

Terdapat dalil yang banyak bagi mengesahkan perkara ini, serta menjelaskan kedudukan cinta dan kasih sayang agung ini. Antaranya:

Daripada Umar Al Khatab r.a. Bahawasanya Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya di kalangan hamba-hamba Allah terdapat satu golongan yang bukan para nabi dan juga bukan para syuhada’ akan tetapi dicemburui oleh para nabi dan syuhada’ terhadap kedudukan mereka di sisi Allah pada hari kiamat kelak. Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, beritahulah kami siapakah mereka? Jawab baginda: Mereka adalah golongan yang berkasih sayang dengan semangat cintakan Allah dan bukan kerana tali persaudaraan, atau harta benda. Demi Allah, sesungguhnya wajah-wajah mereka bercahaya. Dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak takut ketika manusia lain berasa takut. Mereka juga tidak sedih ketika manusia lain berasa sedih”.

Kemudian Rasulullah membaca ayat ini :

“ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون”

“Sesungguhnya wali-wali Allah itu tiada ketakutan dan tidak berasa sedih”. Diriwayat oleh Abu Daud.

Rasulullah juga bersabda dalam satu hadis lain :

“Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat : Dimanakah golongan yang berkasih sayang kerana kemuliaanKu? Pada hari ini Aku payungi mereka di bawah payunganku pada hari yang tiada perlindungan kecuali dari Aku”. Hadis riwayat Muslim.

Sesungguhnya hubungan persaudaraan ( ukhuwwah ) kerana Allah itu tidak akan terputus di dunia ini, bahkan ia berterusan sehingga ke hari akhirat. Allah berfirman di dalam surah al-Zukhruf yang bermaksud:

“Teman-teman rapat pada hari itu ( kiamat ) menjadi musuh antara satu sama lain kecuali orang-orang yang bertakwa”.

Hanya orang bertakwa, yang bersaudara kerana Allah, dan bercinta keranaNya, persaudaraan dan kasih sayangnya itu mampu menghantarnya ke syurga firdaus yang abadi. Tidak perlu merenangi lautan api, Allah pasti memudahkan urusannya sehingga ke hari perhitungan nanti.

Itulah hebatnya rasa sayang dan cinta sesama manusia yang bersandarkan kepada kehendak Allah. Cinta yang menyatukan manusia sehingga ke alam seterusnya. Marilah kita berkasih sayang dalam kehidupan ini. Kasih sayang yang membawa ke syurga.

Sumber:click herel

Ya Allah, kukuhkanlah ikatan hati kami yang telah bertaut hanya kerana-Mu, ameen…

Finally, alhamdulillah =)

Alhamdulillah, berbunga-bunga hati saya setelah mengetahui lagu yang kami nasyeedkan bersama ketika di FIMA Summer Camp ini merupakan salah satu lagu jihad palestin. Sudah lama kami mencarinya. Ia adalah kata-kata ummu muhammad (zaujah dr aziz rantisi)… Subhanallah, proud to know her. Symbol of true mujahidah!

An tudkhilani rabbil jannah.mp3 –


Saya teringat kata-kata yang pernah diucapkan kepada saya, menyentuh hati sesungguhnya. “Hanya hati lembut mampu menanggung beban yang berat…”

Warmth

” Jika kamu mahu menjadi seorang yang mempunyai idea, maka jadilah seorang yang berpendirian. Kerana sesungguhnya satu idea itu biar sebaik mana pun akan menjadi rosak hanya kerana kamu berbelah bagi…!”

Abu Tayyib al Mutanabbi



Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yg berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)Ku dan beriman kepadaKu, agar mereka memperoleh kebenaran

(Al-Baqarah 2 : 186)


Selamat berjuang dear sahabahs, Allah ma’ana! 😀



Jalan pulang itu dagang

Bismillah ArRahmaan ArRaheem,

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,

road

“What you see is what you get.

Who you are determines how you see.”

Dua irama ini telah lama saya sebatikan dalam diri, melunakkan hati dalam mendidik jiwa; sejak anjakan paradigma ini diperkenalkan ketika menuntut di KMB suatu ketika dulu. Selalu melihat dari sudut yang paling terang dan cerah di sebalik setiap yang terjadi. Pastinya bersuluh dengan nur Ilahi!

Realiti tidak seindah yang dilakarkan fantasi. Sejak kecil, saya dibesarkan dalam suasana ‘islamic’. Keluarga besar kami memiliki masjid di kampung. Cucu seorang imam. Nenek dikenali kerana sering dipanggil untuk memandikan mayat ketika terjadinya kematian. Banyak yang telah ditetapkan semenjak kecil. Ini tak boleh, itu tak boleh. Pernah saya mengutarakan kepada ayah untuk berpindah ke MRSM Pengkalan Chepa ketika saya masih di tingkatan 3. Saya masih ingat dialog yang terjadi sewaktu ayah menghantar saya pulang ke asrama penuh selepas cuti bermalam selama 2 hari di rumah.

“Ayah, ramai kawan2 akak nak pindah ke MRSM lepas PMR ni..” saya membuka mulut. Perlahan.

“Hmm… belajar di sekolah sains ni pun bagus juga. SBP pun elok. Lagipun dekat dengan rumah, senang ayah mama nak datang tengok. Tak semestinya MRSM tu bagus. Lepas SPM itu yang lebih penting.” Ayah seperti memujuk. Senyum memandang saya.

Saya diam. Berfikir.

“Kalau ayah tukarkan akak ke MRSM PC boleh? Dekat juga kan?” Saya memalingkan muka melihat reaksi ayah. Ayah tenang. Menumpukan pada pemanduan.

Saya tahu ayah diam dan turut berfikir alasannya untuk diberikan kepada saya. Bukan kerana dia tidak boleh menukarkan saya ke MRSM PC namun ada nilai yang harus difahami oleh saya sebagai anak yang harus dia ajarkan secara tidak langsung.

Khali.

“Ayah tahu MRSM PC terkenal dengan result SPM yang bagus. Tapi rezeki ada di mana-mana, kakak. Yang penting kakak berusaha bersungguh2 dan buat apa yang Allah suruh, tinggal apa yang Allah larang. Stay kat sekolah sains semua perempuan ni kakak dapat satu faedah yang jarang orang nampak.” Tenang ayah mengatur perbicaraan.

“Apa dia ayah?”

“Kakak terlepas dari satu dosa tiadanya pelajar lelaki kat sekolah. Kalau tidak, macam2 boleh jadi.” Ayah bersuara.

Saya tidak pasti itu satu pujukan untuk melembutkan hati saya atau alasan semata dari ayah agar saya melenyapkan impian ke MRSM PC, yang pasti saya sangat terasa dengan kata2nya. Tunduk. Air mata tidak tertahan mahu mengalir. Namun saya kuatkan semangat, jangan menangis depan ayah. Saya faham apa yang ingin ayah katakan. Saya sedar maknanya kata2 tadi.

Apabila naik ke tingkat asrama, saya menangis semahunya di katil. Hati saya cukup tersentuh dengan apa yang ayah sampaikan. Sentuhan itu menggegarkan daya fikir rasional saya. Ayah mahu saya berfikir bukan untuk jangka masa dua tahun ke depan, namun sampai kepada pahala dan dosa yang membawa ke destinasi akhir di akhirat. Itulah matlamat kita. Didikan ayah itulah yang selalu mengetuk pintu hati saya yang keras ketika mahu menginjak jiwa remaja.

Kedatangan ke Indonesia antara sedar atau tidak telah banyak membuka minda saya mengenali realiti sebenar di negara paling ramai ummat Islam ini. Pelbagai masalah sosial baik dari peringkat bawah mahupun atasan menyedarkan saya. Di situ, saya mula bertolak-ansur. Saya mudah mengikut arus, tetapi prinsip hidup tetap saya genggam kemas walau terkadang goyah. Namun, tidak semudah itu untuk sekadar melihat…

Awalnya, resah dan gundah di hati. Amalan yang dahulunya istiqamah, terhenti seketika. Sesetengah perkara yang saya ‘tolak keras’, saya rasa ‘terpaksa’ melakukannya kerana semua orang melakukannya, bagaikan saya seorang yang berkata ‘tidak’ di situ!

Lesu juga hati saya ketika itu. Tak keruan jadinya. Kadang-kala terasa lemah semangat. Mudah dihinggap sedih. Above all, Allah knows best. Ayah dan mama berbicara jangan berputus asa dan berpesan agar flow saya tidak berubah; meniupkan kembali semangat. Sahabat-sahabat seperjuangan menaikkan izzah Islam yang dijulang. Di mana bumi dipijak di situ Islam ditegakkan. Kemudian, saya teruskan perjalanan dengan doa padaNya sentiasa. Ya Allah, hiburkan dan gembirakanlah daku dengan redaMU~

Sering juga saya tersungkur di jalan ini. Namun, dikuatkan semangat dan hati. Ini adalah ujian dan cabaran, menguji keteguhan iman dan kesabaran dalam meyakini janji2 Allah swt. Dunia hanyalah sementara cuma, akhirat itulah yang abadi. Saya harus membajai dunia yang hanya di genggaman tangan dengan sebaiknya mengikut aturanNya. Tersemat kukuh di sanubari, saya ingin bangkit, tegak semula. Alhamdulillah, Allah Maha Penyayang. Sahabat2 jauh dan dekat memberi sokongan dan dorongan, kami bersama dalam saf dan ukhwah. Terasa kemanisan kebersamaan. Moga tetap thabat hati pada jalanNya. Biar perit yang dirasa, biar sukar untuk melangkah, kerana syurga itu menagih ujian!

Mendulang hikmah di lautan kehidupan ini. Bersama kesusahan, hadirnya kesenangan. Anjakan paradigma saya dipengaruhi keluarga tersayang, lambaian teman seperjuangan serta sahabat dikasihi di sini. Sahabat yang dekat dicintai, sahabat yang jauh dirindui… sungguh terasa kehangatan kasih mereka di sini, sungguh terasa ketidakhadiran mereka di sana. Namun alhamdulillah, bertindan-tindan nikmat yang Allah kurniakan dalam saya sedar atau tidak. Moga hati tidak berbelah bagi, keyakinan ini telah lama berpadu.

Apa yang pasti, tidak kisahlah apa yang orang kata. Ketika kita merancang bila untuk mengadakan tamrin dan iftar jama’i, orang lain bersungguh-sungguh dengan permainan terbaru di pasaran. Orang lain sibuk memilih tarikh untuk bercuti ke tempat menarik ketika kita berperah otak menimbang program mana yang mana lebih manfaatnya jika diikuti. Kita berusrah ketika orang bergembira dengan cara mereka tersendiri. Kita seronok, gembira malah bersungguh-sungguh juga tapi dengan cara yang lebih ‘fun’. Tuhan yang kita sembah pun lebih meredai…bukankah itu lebih bermakna dan menenangkan hati?

Wallahua’lam. Tepuklah dada, tanya iman di hati. Sesungguh hati itu memberikan fatwa kepada perbuatan kita.

Saya akhiri titipan ini dengan firman Allah di dalam surah Al-Kahfi ayat 28:

“Dan jadikanlah dirimu sentiasa berdamping rapat dengan orang-orang yang beribadat kepada Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang, yang mengharapkan keredaan Allah semata-mata dan janganlah engkau memalingkan pandanganmu daripada mereka hanya kerana engkau mahukan kesenangan hidup di dunia dan janganlah engkau mematuhi orang yang Kami ketahui hatinya lalai daripada mengingati dan mematuhi pengajaran Kami di dalam Al-Quran, serta dia menurut hawa nafsunya dan tingkah lakunya pula adalah melampaui kebenaran.”


Ya Allah, Tuhan pemilik segala hati, kuatkan diriku… kerana sesungguhnya jalan pulang itu dagang…

Ana akhafullah wa ana uhibbukum fillah,

Srikandi Abu Bakar